Sabtu, 14 Mei 2011

Sejarah Seniman Indonesia Affandi

Pada tahun 2007, maestro seni lukis Indonesia Affandi genap berusia 100 tahun. Ia lahir di Cirebon, Jawa Barat, pada 1907, tanpa seorangpun, tak terkecuali Affandi, yang mengetahui dengan pasti tanggal dan bulan kelahirannya.
Seratus tahun: Tak banyak orang yang memperoleh kesempatan “mendekati”-nya. Tidak juga Affandi, yang harus menyambut kedatangan maut pada usia 83 tahun. Seperti kita ketahui, ia telah berkalang tanah pada 23 Mei 1990. Ini artinya, sudah 17 tahun lamanya ia berbaring dalam pusara yang berada di sebuah sudut museum pribadinya di tepi kali Gajah Wong, Yogyakarta.
Sejak saat itu, kuburan tersebut menjadi “keterangan tempat”, mungkin alamat, yang sunyi dan sepi, bagi setiap orang yang hendak menziarahinya. Maka apa arti 100 tahun untuk seorang pelukis yang telah pindah hidup kea lam baka?
Di negeri yang tak lepas dirundung bencana ini, mungkin kita tak perlu lagi berkabung untuk seorang pelukis yang namanya selalu hidup dalam sanubari anak-anak sekolah dari Sabang sampai Merauke itu. Mungkin saya berlebihan dalam perkara itu. Tapi sangat mungkin bahwa Affandi masih “hidup”, terutama jika hidup, untuk memakai kata-kata Chairil Anwar dalam sajak “Derai-Derai Cemara” (1949), bukan berarti menunda kekalahan sebelum pada akhirnya kita menyerah. Lagi pula, sebagian dari kita mempercayai bahwa Affandi tak pernah kalah dan menyerah. Ribuan lukisannya yang kini tersimpan di museum pribadinya dan atau dikoleksi oleh sejumlah pecinta seni atau kolektor di dalam negeri dan mancanegara adalah jejak langkah hidup Affandi di muka bumi ini.
Potret Diri dan Matahari
Sepanjang hayatnya sebagai pelukis, Affandi melukis hamper semua pokok soal (subject matter) perupaan kehidupan manusia, binatang, dan alam, yang tertangkap matanya. Tapi, pokok soal yang paling memikat perhatiannya, dan karena itu berulang-ulang muncul dalam lukisanya, adalah matahari dan potret dirinya.
Dalam sebuah wawancara panjang dengan Cris Wee, pemusik dan pelancong seni berdarah Cina-Singapura, pada 1982, Affandi menjelaskan pertimbangannya dalam melukis banyak matahari. Katanya “Saya suka matahari. Ini adalah simbol kehidupan saya. Seperti keyakinan. Harus bisa membakar dan panas seperti dalam lukisan.”
Sementara itu, kepada setiap orang, khususnya orang asing yang bertanya perihal kebiasaanya melukis potret diri, penerima Hadiah Perdamaian Internasional Dagh Hammarshjoeld (1979) itu menjawab dalam bahasa Inggris: “Because I understand my self.” Salah satu lukisan potret diri Affandi yang termasyhur adalah Tiga Ekspresi Affandi (1979) yang memperlihatkan dengan jujur perasaan penyandang gelar doctor honoriscausa yang diberikan oleh Universitas Singapura pada 1974 itu dalam tiga warna berbeda: Kuning (gembira), hijau (sedih), dan merah (marah).
Denan begitu, tak berlebihan untuk dikatakan bahwa lukisan potret diri Affandi merupakan semacam biogragfi visual yang memungkinkan sang pelukis mengungkapkan pemahamannya tentang diri sendiri. Dari sini, para penatap beroleh apa yang disebut curator seni rupa Jim Supangkat dengan “nada kunci” bagi seluruh irama ekspresi sang maestro. Itu sebabnya, menurut Supangkat, lukisan potret diri Affandi tidak hanya mereflesikan perkembangan dirinya, tapi juga mencerminkan seluruh perkembangan seni lukis. Maka jadi bisa dimengerti jika penerima Bintang Maha Jasa Utama dari pemerintah Republik Indonesia pada 1978 itu tak kunjung sudah melukis potret dirinya, dari debutnyandi tahun 1930-an sampai maut menjeputnya pada 23 Mei 1990.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar